SUNNAH MEMBACA
Iqro’ atau Bacalah, itulah perintah pertama yang diterima oleh Rasulullah Saw dari Allah Swt. Sebuah perintah yang seakan menjadi penegas bahwa umat Islam nantinya menjadi umat yang mampu membangun peradaban besar dengan budaya membaca. Guru guru kita terdahulu banyak yang menyatakan bahwa membaca adalah salah satu senjata untuk melawan lupa. Karena tulisan adalah sebuah kata yang tersimpan dan tak lekang dimakan zaman, maka memang benar apabila dikatakan bahwa membaca adalah senjata melawan lupa. Dengan membaca orang bisa menjelajah dunia, serta bertemu dengan berbagai individu baik yang sezaman, dari masa lampau hingga masa yang akan datang. Masalahnya budaya membaca mulai terkikis di negeri ini. Ia mulai tidak dilirik sebagai hobi. Buku sudah dianggap barang mahal dan menjadi kebutuhan kesekian bagi keluarga dan masyarakat Indonesia.
Di media massa disebutkan bahwa indeks baca masyarakat Indonesia adalah 0,001 atau dari seribu orang hanya satu orang yang membaca buku. Amerika Serikat dan Jepang yang dikenal sebagai negara maju memiliki indeks baca masing-masing 156 dan 146 yang artinya di Amerika 1 orang membaca kurang lebih 156 buku dan di Jepang 1 orang membaca 146 buku.
Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, khususnya para siswa siswi kita tentu membuat kita mengelus dada. Ada sebuah PR besar terutama dibebankan kepada para guru. Sebenarnya ada beberapa masalah yang selama ini menjadi penyebab rendahnya minat baca di Indonesia.
Pertama adalah pola pembelajaran membaca yang keliru. Anak didik hanya diajarkan membaca intensif atau membaca pada waktu tertentu saja dan dengan bahan bacaan yang minim variasi. Anak didik hanya diberi bahan bacaan yang tercantum di buku paket atau LKS saja. sehingga Nurul fikri selong sebagai salah satu sekolah yang berbenah terhadap tindakan seperti ini, nurul fikri selong juga sebagai salah satu sekolah model khususnya di kota selong. kemudian yang kedua kurang pembiasaan minat baca di sekolah sehingga nurul fikri sudah berbenah dengan program literasi sekolah membaca 15 menit sebelum mulai pembelajaran dan rabu membaca (khusus di hari rabu 30 menit untuk membaca) seuruh siswa dan guru beramai ramai di lapanagan. Maka perlu adanya perubahan paradigma pembelajaran membaca yaitu guru sebagai mentor, trainer, sekaligus pendamping anak didik untuk mendapatkan bahan bacaan berkualitas.
Kemudian yang ketiga kurangnya pasilitas disekolah (buku lama)ini penyebab kurangnya minat baca siswa. Nurul fikri selong mencoba dengan program pojok baca didesain dengan sebaik mungkin sehingga siswa akan tertarik untuk membaca.
Maka menumbuhkan minat baca peserta didik tentu diawali dari seorang guru yang rajin membaca. Banyak orang menyatakan bahwa guru adalah sosok yang digugu dan ditiru. Artinya bahwa teladan utama seorang murid adalah gurunya.
Tentu kerja keras ini tidak akan bernilai apa-apa apabila tanpa dibarengi dengan niat dan motivasi yang kuat. Membaca adalah salah satu ibadah dan jalan satu-satunya untuk menggapai ilmu. Maka membaca merupakan penghormatan terhadap ilmu dan jalan satu-satunya untuk meraih kedudukan sebagai orang ‘alim atau ahli ilmu. Sosok-sosok orang ‘alim inilah yang di kemudian hari pasti akan melahirkan peradaban-peradaban gemilang, sebuah peradaban berbasis ilmu. Maka Maha Benarlah Allah Swt melalui malaikat Jibril memberikan perintah pertama kepada Rasulullah dengan kata-kata Iqro': Bacalah. Mari membangun budaya baca sejak dini melalui literasi sekolah.
Komentar
Posting Komentar